Minggu, 28 Februari 2016

Teaser : She Npc

Darah merah segar berceceran di bajuku. Aku hanya bisa terbujur kaku sembari menunggu kematian. Kini moster banteng raksasa mendekatiku, dengan menggengam kapak nya yang besar, moster tersebut bersiap memotong tubuhku. 'Sial kenapa harus berakhir disini padahal sedikit lagi aku dapat rare gear' batinku sambil menutup mata. Aku terlalu takut melihat kematian ku sendiri.

Meskipun ini hanyalah sebuah game, tetapi rasa sakit akibat luka di game ini tidak dapat diremehkan. Blooded Saga yang tak lain adalah nama game VRMMO yang sedang kumainkan saat ini. Berbeda dari VRMMO lain yang tidak menanamkan rasa sakit pada setiap luka yang di alami si pemain. Pada game ini si pemain akan merasakan sensasi rasa sakit 70% dari luka yang sebenarnya. Jadi bisa dipastikan setiap aku mati, air mata selalu menetes membasahi pipiku.

Ngoaargh

Moster banteng menghujam kapaknya ke arah tubuhku, lantas kututup mataku menggunakan tangan kiriku dan tangan kananku menggengam pedang yang kubawa untuk melawan moster tersebut. Berharap bisa mendapatkan sedikit perlawanan di akhir hayat.

Jllepp....

"Eem tuan monster cepat bunuh aku!!! Jangan membuatku menderita lebih lama lagi," teriakku pada moster banteng tersebut.

Karena tidak ada jawaban dari monster, kubuka mataku dan ku sisihkan tangan kiriku yang menutupi bagian mata.

"Eh?" Ucapku penuh keheranan.

Monster banteng tingkat 3 yang sudah siap membunuhku kini tergeletak dengan busur panah yang menancap pada bagian kepalanya.
Air mata membasahi pipiku, bukan karena air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Impian ku untuk mendapatkan rare gear terwujud. Aku melangkahkan kakiku ke ujung gua, terlihat beberapa kristal berwarna hijau mengelilingi box berwarna coklat kehitaman.

Kubuka box tersebuta dan......

Sebuah pedang kristal berwarna hijau muda dengan damage point 678 《RareClass》telah menjadi milikku. 'Dengan pedang ini, aku akan menjadi yang terkuat' batinku dengan pandangan yang berkaca kaca.

"Selamat ya... atas keberhasilanmu" Suara seorang gadis dibelakangku. Karena penasaran, kubalikkan badan ku dan kulihat gadis tersebut.

"Apa NPC??!! bagaimana bisa?" Tanyaku dengan penuh keherananan. Karena seorang NPC seharusnya tidak bisa mengikuti event.

"Namaku, Rina Skylovesy saya seorang NPC baru. Mohon bantuannya" kata NPC tersebut sambil membunggkukkan badannya.

Selasa, 16 Februari 2016

Chapter 01 Part 2

Semua siswa telah duduk rapi di bangkunya masing-masing. Guru bahasa Indonesia, Pak Galih namanya. Mengabsen satu persatu murid merupakan cara yang biasa guru lakukan dalam rangka menghafal nama muridnya.
  "Firman!"
  "Hadir pak!" Kata Firman dengan menganggkat tangannya
  "Firman, kamu sedang sakit?"
  'Duh gimana jawabnya ya' batin Firman dengan memasang wajah khawatir.
  "Emm anu pak sebenarnya tadi malam saya kurang tidur, jadi ya...hari ini saya kurang fit pak"
  "Haah ya sudah.... lain kali jaga kualitas tidurmu, jangan sampai terulang lagi, karena bapak nggak mau ada murid bapak yang kurang semangat ketika proses kbm sedang berlangsung"

*kbm-pelajaran

***
Bel istirahat

  "Fir, udah baca belum My Deareset" kata hafid dengan penuh semangat
  "Udah, mataku ini sebagai bukti kalau aku udah baca sampai seri2" Firman menunjukkan matanya yang merah kepada hafid
  "Bagaimana rasanya setelah baca My Dearest Fir?"
   "Keren sih, tapi setelah aku baca sampai seri 2 selesai malah buat sedih aja"
   "Nah, karena kamu sudah selesai baca My Dearest. Pulang sekolah nanti kamu buat cerpen dengan tema bebas. Nanti kalau sudah kasih cerpenmu ke emailku ya"
   "Buat apa?" Tanya Firman
   "Udah kamu lakuin aja, oh ya jangan lupa kirim juga karya cerpenmu yang, 4 hari yang lalu baru di nilai sama pak Galih"
   "Ya, nanti pulang sekolah aku kirim dua-duanya deh, tapi ingat setelah aku ngirim cerpen nanti aku ajarin buat blog ya"
   "Oke" kata Hafid dengan hormat ke Firman.

Percakapan mereka berdua seketika menjadi hening. Bagaimana tidak? Mereka berdua yang awalnya hanya duduk berdua di kursi taman sekolah, kini terdapat seorang perempuan dengan rambut hitamnya yang khas serta pita di rambutnya yang membuat perempuan itu semakin cantik. Tidak lain perempuan itu adalah Andini, keringat dingin bercucuran dari tubuh mereka berdua.

Biasanya mereka berdua justru ingin mengajak Andini berbicara bersama, namun kali ini nampaknya beda. Kehadiran Andini di tengah perbincangan mereka justru menjadi hal yang tidak di harapkan mereka berdua.

Sebenarnya semenjak 3 hari yang lalu, Hafid dan Firman berjanji tidak akan mendekati Andini sampai kelulusan tiba. Alasan mereka berdua membuat janji tersebut adalah untuk menjaga perasaan  mereka berdua yang sama-sama menyukai Andini. Dan saat mereka sudah lulus sma, persaingan mereka berdua merebut hati Andini di mulai dengan syarat:
-tidak boleh mengajak kencan atau semcamnya
-tidak boleh merayu/menggombali Andini
-merebut hati Andini harus dengan cara membuat, Andini penasaran pada pribadi masing-masing.

Memang cara seperti itu sulit untuk merebut hati Andini. Tetapi mereka berdua percaya bahwa salah satu dari mereka akan merebut hati Andini. Dengan membawa setumpuk kertas Andini membuka mulutnya.

  "Eem Fir tadi aku ketemu sama pak Galih terus pak Galih ngasih tugas Drama sama kelas kita, kebetulan kita di kelompok yang sama. Kira-kira kamu ada waktu kapan buat bikin naskahnya"
  "Emm anu aa-apa eng-nggak boleh pindah kelompok ya?" Tanya Firman dengan terbata bata
  "Oh tentu nggak boleh Fir" sahut Hafid
  "Fid tapi kan-"
  "Udah nggak papa kan cuma itu perintah langsung dari guru kita, anggap aja itu rejeki kamu"
  "Firman, kok kamu nggak kaya biasanya kamu kelihatan pucet banget lho" tangan andini menyentuh dahi Firman.

Wajah Firman memerah seketika.

  "Fir kamu harus ke  uks deh, kamu panas banget" wajah Andini terlihat khawatir.

Mengetahui wajah Firman yang semakin memerah, Andini mulai menyadari kalau Firman punya perasaan kepadanya. Lantas Andini segera membuka mulutnya.

  "Ano maaf" Andini segera berlari menjauhi mereka berdua tanpa mengetahui kapan ia mengerjakan tugas dramanya.

***
Di suatu kamar yang telah di perlihatkan sebelumnya, sebuah kamar berukuran 4x6 meter.
Terlihat Firman sedang duduk manis didepan PC dengan layar 21 inchi.

  "Hah akhirnya selesai juga.."
Tiba-tiba suara notifikasi muncul
  #Emm, cobah kamu bandingin cepen yang kanan sama yang kiri#
. Pesan dari hafid

*tanda # berati pesan chatting

  #ya aku baca dulu ya # balas firman.

.....
   #sudah selesai fir?#tanya hafid
   #udah fid#
   #menurut kamu bagus yang mana?# tanya hafid kembali
   #bagus yang kanan fid#
   #menurut kamu yang kanan skornya berapa dan yang kiri berapa?#
  # kalau menurut aku sih yang kanan 84 yang kiri 64#
   # nah itu kamu baru nyadarkan perbandingan cerpenmu yang dulu sama yang sekarang#
    #itu cerpen ku fid?#
    #iya#
     #kok beda ya? #
     #sama saja kok fir cuman, nama tokoh, tempat, dan judul aku ubah fir biar kamu mau baca, soalnya aku tau kalau kamu paling malas baca tulisan sendiri hehehe...#
   #ternyata aku hebat juga ya#
   #tapi kamu masih kalah sama aku fir#
   # iya, ya aku tau#

23 februari 2015
256 sebelum kelulusan

Ramai, merupakan suasana yang sedang terjadi di kelas saat ini. Seluruh siswa bergabung dengan kelompok dramanya masing-masing. Firman merupakan satu-satunya laki-laki dalam kelompoknya. Lily, Andini dan Sherly merupakan teman satu kelompok Firman. Firman selalu berharap ia satu kelompok dengan siswa laki-laki, namun entah mengapa Firman selalu mendapat kelompok dengan mayoritas siswa perempuan. Firman sendiri selalu canggung saat berkunjung ke rumah teman perempuannya oleh karena itu ia selalu ada berharap ada siswa laki-laki yang mendapinginya.

  "Nanti pulang sekolah kita mau ngerjain teks dramanya dirumah siapa?" Tanya sherly ke teman-temannya
  "Di rumah Andini aja, soalnya dirumah Andini kan transpotnya gampang" sahut Lily
   "Kamu mau nggak Din?" Tanya Sherly
    "Kalau aku sih yes" jawab Andini
    "Fir, mau nggak di rumah Andini" tanya sherly lagi
    "Emm, gimana ya, di rumahku aja deh. Nanti kalau kehabisan uang transpot aku anterin kalian sampai depan rumah"
   "Wahh setuju banget tuh. Jadi keputusannya nanti kita akan kerumah Firman yee, tapi nanti aku anterin sampai depan rumah ya" sahut ria Sherly
   "Iya deh -_- " jawab datar Firman

Sementara itu Andini dan Lily hanya terdiam.

Chapter 01 Part 01: Bertemu Seorang Blogger

Sebuah kamar berukuran 4x6 meter, gelap, berantakan itu mungkin kata-kata yang menggambarkan kamar ini. Seorang pemuda dengan kacamata yang dipakainya dan sebuah monitor komputer yang merupakan satu-satunya cahaya penerang kamar ini, membuat suasana serasa hening tanpa suara. Hanya suara dentukan keyboard dan suara notifikasi sosial media yang membuat suasana kamar terlihat hidup.

"Huft udah jam 2 pagi, biasanya one punch man jam segini dah update. Ni fansubnya pada kemana sih?" Dengan memukul tanggan nya ke meja komputer, lantas tak lama kemudian Firman meringis kesakitan.

Sfx : Trung... (suara notifikasi facebook)

  'Siapa sih malam-malam update status' batin Firman.

Lalu Firman pun membuka notifikasi tersebut. Isi dari notifikasi tersebut seperti ini :

Ravi Ramandhika
Tampilan blog udah cocok, tinggal rajin-rajin aja upload..
*Dengan gambar tampilan blognya.

  'Yah ni orang mau coba-coba buat blog anime, heh palingan cuma beberapa hari doang udah tutup blognya' batin firman dengan memasang wajah meremehkan.

***

Sfx : Kringg...(suara alarm)

  "Eh buset, gempa" Firman terbangun dan terpental dari kursi tidurnya.

  "Cihh, masih ngantuk bangunin aja udah begitu bikin gue kaget lagi"

*Saat sedang berbicara sendiri Firman sering menggunakan bahasa gaul.

  "Firmann... Bangun! udah jam 5 pagi, sholat subuh dulu nak"

  "Iya bu Firman lagi matiin komputer"

...

  "Firman berangkat dulu ya bu"
  "Iya, hati-hati dijalan nak"

Pelan dan tatapan kosong, merupakan dua hal yang menggambarkan wajah Firman saat ini. Bagaimana tidak? Setelah di tolak oleh orang yang disukainya, di jauhi pula dan lebih parahnya lagi dia ditolak sembelum dia menyatakan perasaannya, sungguh mengenaskan. Lamunan Firman berhenti, setelah seorang perempuan dengan rambut hijau menepuk punggungnya, yang tak lain ia adalah Lily.

  "Eemm Fir... maaf ya"
  "Maaf soal apa ya?"
  "Soal kemarin, jujur aku ini orangnya blak-blakan, setiap ada cowok yang ngedeketin Andini aku pasti selalu cerita ke dia. Soalnya aku gak tahan Fir.. udah banyak cowok yang nembak dia tapi di tolak dan alasannya menolak pasti karena dia udah suka ama cowok lain. Padahal selama ini kan sebenarnya kan cowok yang Andini sukai itu teman masa kecilnya, lagian cowok itu mana mungkin masih ingat wajah Andini"
  "Lagian ya, cepat atau lambat Andini pasti tau perasaanku jadi masalah kemarin bukan salahmu kok, sekarang yang membuatku risih adalah kenapa Andini selalu menjauhi setiap cowok yang menyukainya. Kan gara-gara itu aku merasa bersalah, seolah-olah aku telah melakukan hal yang enggak-enggak ke Andini"

  "Andini mah gitu orangnya, baper banget, dia itu sebenarnya gak mau perasaanmu tersakiti. Oh ya btw nanti kalau dah sampe pertigaan kamu jalan duluan aja ya, soalnya nanti aku mau ketemuan sama Andini di situ"

  "Ya deh terserah kamu"

***

Terulang lagi, pelajaran matematika kosong dikarenakan pak Alwi sedang membimbing osn komputer. Seisi kelas riuh, setiap siswa memiliki kesibukan tersendiri. Hanya bangku baris pertama, no 2 dari pintu yang hening tanpa suara
#Krik2
Siapa lagi kalau bukan Firman dan Andini. Lily hanya bisa melihat mereka berdua dengan perasaan bersalah. Karena berkat Lily hubungan pertemanan mereka berantakan.
Karena Firman tak tahan dengan suasana hening di bangkunya, Firman pun mencari udara segar di luar kelas. Hanya terlihat seorang lelaki dengan gaya rambut spike yang sedang terduduk di depan kelas. Lelaki berambut spike tersebut mengajak Firman duduk bersamanya, lalu dia membuka pembicaraan.

  "Kau ada masalah ya, sama Andini?"
  "Tau aja kamu fid"
  "Ya taulah, soalnya dulu aku juga dah pernah deket ama dia waktu smp. Tapi sayangnya waktu nembak ditolak dan dijauhi, sayang cewek secantik dia hatinya tertutup"
  "Udah fid gak usah dibahas, sekarang aku lagi fokus nyari pendapatan tambahan. Soalnya udah dua bulan sejak kita masuk kelas 2 sma duitku abis mulu buat download anime"
  "Wah nggak nyangka orang seganteng kamu suka anime"
  "Emang nggak boleh ya orang ganteng nonton anime"
  "Bukannya nggak boleh, soalnya biasanya itu vvibu itu orangnya kaya gitu *_*"
  "Kaya gitu gimana maksudnya?"
  "Udah deh nggak usah bahas vvibu, btw kalau kamu butuh uang mendingan buat blog aja, terus kamu buat postingan semenarik mungkin, bila viewer nya udah banyak baru deh pasang iklan. Duit ente ngalir vroh"
  "Ah tapi aku malas nulis fid"
  "Kalau kamu malas nulis, masuk group Line aja"
  "Terus apa hubungannya Line ama blog"
  "Udah kamu masuk group Line aja"
  "Tapi aku kan nggak suka baca"
  "Aku juga dulu nggak suka baca. Tapi semenjak aku ikut group Line aku jadi suka baca, awalnya iseng-iseng aja baca salah satu novel jeffri xu. Eh lama-lama jadi suka baca"
  "Iya deh nanti aku gabung group Line"
  "Siip sekalian nanti kamu baca Light Novel My Dearest, dijamin kamu pasti suka" kata Hafid dengan penuh semangat sambil memeluk Firman
***

Minggu, 14 Februari 2016

Prolog My Blog Way



Tak ada yang bisa kulakukan selain menatap matanya, sedari tadi ia selalu mengajaku bercengkrama. Senang rasanya hati ini melihat orang yang di cintai merasa nyaman berada di sampingku. Tapi sepertinya ini tidak akan berlangsung lama. Sorotan mata tajam seorang perempuan dari kejauhan. Perempuan itu adalah teman dari Andini Sylyana Putri (perempuan yang berada di sampingku) Lily Anggraini namanya.

***

Tak terasa, sudah 5 hari sejak libur akhir tahun. Beruntung hari jumaat yang biasanya di isi pelajaran matematika, saat ini kosong dikarenakan Pak Alwi (Guru matematikaku) sedang mengikuti penataran. Sebagai gantinya ia memberikan tugas "mengerjakan soal matematika pada buku paket halaman 101 ditulis di kertas sobekan" Kurang lebih seperi itu perintahnya.

Perempuan yang kini duduk di sampingku membuka mulutnya

"Fir aku minta kertas sobekan dong♡ soalnya kertas ku habis ni" Andini, sambil menggerakkan tubuhnya dan memasang wajah memelas
"Iya,iya" Jawabku dengan nada datar

Wanita berambut hijau dibelakangku yang tak lain adalah Lily membuka mulutnya.

"Cie-cie pasangan suami istri pagi-pagi udah bermesra mesraan"Kata Lily dengan mata berbinar-binar.

Mendengar perkataan Lily sontak membuat wajahku memerah, sementara Andini seolah tak terpengaruh dengan perkataan Lily.

***
Warna langit yang berubah menjadi oranye menandakan hari sudah sore. Satu persatu siswa mulai meninggalkan sekolah. Karena sedari tadi aku menahan air yang ingin keluar dari tubuhku, terpaksa aku berlari menuju toilet sekolah. Lega rasanya ketika air kotorku telah keluar. Ketika aku telah selesai buang air kecil, aku mendengar suara langkah kaki di depan toilet. Ketika suara langkah kaki berhenti suara perempuan yang tak asing bagiku terdengar di telingaku.

"Din aku kan sudah lama kenal denganmu, selama itu pula aku sudah sering melihat lelaki yang mendekatimu" Kata Lily mencoba meyakinkan Andini

"Ya aku tau kok kalau banyak laki-laki yang mendekatiku. Tapi jika ada yang menyatakan perasannya keapadaku pasti akan aku tolak seganteng apapun orang itu"

"Bagaimana kalau Firman menyukaimu?"

"Aku akan menolaknya dan menjauhinya karena aku tak ingin perasaannya tersakiti karena berteman denganku"

Mendengar pernyataan Andini, sontak membuat dadaku terasa sakit. Karena di tolak dari belakang, karena tak tahan dengan pernyataan Andini aku membuka pintu kamar mandi dengan keras.

Sfx duar...

"Andini, setidaknya bila kau menolak perasaanku. Kita masih bisa bertemankan?"

"Tidak bisa. Karena aku sudah menyukai lelaki lain" jelas Andini dengan meneteskan air matanya.

Andini berlari meninggalkanku, Lily mengikuti Andini dari belakang. Saat itu juga aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa terdiam dan merenung dalam penyesalan. Tak hanya ditolak tapi juga dijauhi, itu merupakan suatu doubel point yang menusuk......